Tahukah kalian di antara 27 kitab Perjanjian Baru, ada 13 kitab yang ditulis oleh seorang rasul bernama Paulus. Bahkan pengertian kita tentang keselamatan dan gereja banyak berhutang kepada pengajaran Paulus melalui surat-suratnya. Maka pemahaman yang benar tentang theologi Paulus sangatlah penting di dalam perkembangan sejarah theologi. Bukan saja hal itu akan memengaruhi arah dari theologi dan kekristenan, tetapi juga bagaimana kita memandang keselamatan di dalam hidup kekristenan kita.
Ada banyak perdebatan bagaimana membaca pengajaran atau theologi Paulus. Misalnya latar belakang dan konteks hidup Paulus yang sangat beragam, kompleks, dan dinamis. Seorang anak yang dilahirkan di tanah Romawi, mendapat pendidikan secara Yahudi di bawah imam besar, dan ketika menjadi rasul banyak berhadapan dengan tradisi Yahudi dan tradisi, filsafat, dan kebudayaan Yunani. Latar belakang dan konteks hidup yang kompleks ini menjadikan pembacaan theologi Paulus bisa sangat beragam terutama sejak abad ke-19.
Umumnya orang Kristen memahami theologi Paulus melalui ajaran para reformator khususnya oleh Martin Luther. Ia memakai analogi forensik atau sistem pengadilan di dalam memahami bagaimana manusia berdosa dapat diselamatkan atau dibenarkan. Orang percaya dapat dibenarkan karena hukuman yang harusnya kita terima, digantikan oleh kematian Kristus di kayu salib.
Namun, belakangan muncul pandangan bahwa theologi Paulus tidak seperti itu. Karena Paulus adalah seorang mantan orang Farisi yang sangat taat di dalam tradisi Yahudi. Sehingga theologi Paulus, khususnya tentang keselamatan, harus dipahami secara tradisi Yahudi. Salah satunya menekankan hanya anugerah Tuhan yang memilih siapa yang dapat masuk ke dalam umat perjanjian. Bukan seperti para reformator yang menekankan salib Kristus sebagai pembenaran yang ditimpakan bagi orang percaya.
Sebaliknya, ada yang menekankan pembacaan theologi Paulus melalui pengalaman religius yang dialami oleh-Nya. Karena pada zaman itu ada banyak sekali ritus atau ritual agama tertentu yang berlaku di masyarakat. Misalnya ritual keagamaan sebagai bagian untuk bisa bersatu dengan yang ilahi. Bagi mereka Paulus pakai konteks ini untuk mengajarkan tentang persatuan di dalam Kristus melalui ritual-ritual Kristen yaitu baptisan dan perjamuan Kudus. Istilah yang Paulus sering gunakan yaitu “di dalam Kristus” (in Christ), pada akhirnya dipahami sebagai kesatuan yang bersifat mistik.
Jadi, di antara perdebatan ini bagaimana seharusnya kita membaca theologi Paulus? Seorang theolog Belanda bernama Herman Ridderbos mengajukan satu pendekatan yang lebih setia terhadap cerita Alkitab yaitu pendekatan sejarah penebusan (redemptive history). Pendekatan ini bahkan sanggup menjembatani antara konteks tradisi Yahudi dengan konteks Yunani yang mewakili orang non-Yahudi. Mengapa bisa demikian? Karena apa yang Paulus ajarkan perihal keselamatan adalah bagian dari tindakan Allah yang terus bekerja di dalam sejarah. Keselamatan orang percaya bukan dimulai dari kematian dan kebangkitan Kristus, tetapi sudah dinubuatkan oleh Allah sejak kejatuhan manusia. Kemudian berlanjut dengan perjanjian kepada Abraham bahwa ia akan menjadi bapa dari segala bangsa. Lalu bangsa Israel sebagai umat perjanjian yang dikhususkan bagi Allah. Melalui bangsa inilah akan muncul Mesias yaitu Tuhan Yesus untuk membuka era yang baru melalui gereja Tuhan. Sampai kepada akhir zaman di mana keselamatan itu disempurnakan kepada umat-Nya. Seluruh tahap ini terjadi di dalam rentetan sejarah yang terus berjalan di masa lampau, sekarang, dan masa yang akan datang. Jadi, latar belakang Paulus sebagai orang Yahudi maupun Yunani hanyalah konteks di mana Allah bekerja untuk menyatakan keselamatan bagi Paulus maupun orang-orang yang akan diinjilinya. (TP)

