Sejak pertama kali manusia jatuh ke dalam dosa, ribuan tahun telah berlalu. Kita yang hidup di zaman ini sudah mewarisi dosa dan efek dosa yang makin lama makin dalam. Itulah alasannya mengapa berita buruk selalu hadir di berbagai surat kabar setiap harinya: mulai dari pejabat pemerintah korupsi, pembunuhan di dalam keluarga, perekonomian runtuh, dan sampai perang geopolitik global.
Melihat hal ini, manusia pada umumnya terbagi menjadi dua kelompok dalam meresponinya. Kelompok yang pertama percaya kalau ini semua permasalahan sistem. Sistem dunia ini ada cacatnya, sehingga dunia kacau. Kalau sistem-sistem ini dibenahi dan ditata ulang dengan lebih baik, dunia akan ideal. Misalnya, pendidikan ditingkatkan, politik direformasi, ekonomi dikembangkan, dan lain-lain. Kelompok ini disebut utopian.
Kelompok yang kedua percaya bahwa pada dasarnya manusia memang busuk. Semua orang pada mulanya memang korup di segala waktu dan di dalam segala cara. Karena itu, dunia yang kacau seperti sekarang ini tidak bisa diperbaiki. Kelompok ini disebut sinis.
Utopian dan sinis punya banyak pendukung, termasuk orang-orang Kristen. Padahal, mereka memiliki kesalahan doktrinal yang sama, yaitu melihat hanya dengan satu lensa mengukur dengan standar keadaan hari ini. Ini yang membuat baik utopian maupun sinis tidak bisa konsisten dan akhirnya gagal.
Para utopian tidak bisa menjelaskan mengapa di dalam sistem yang paling baik sekalipun tetap ada permasalahan. Para sinis tidak bisa menjawab mengapa jika dunia ini tidak bisa diperbaiki sama sekali, mereka tetap menjadi orang yang memiliki pengharapan akan kebaikan yang makin bertambah setiap harinya.
Orang Kristen sejati memiliki cara pandang yang khas dan jelas. Alkitab memberikan kita tiga lensa dalam melihat dunia ini: penciptaan, kejatuhan, dan pemulihan. Dalam lensa penciptaan, manusia diciptakan baik dan bernilai. Dalam lensa kejatuhan, manusia jatuh dan rusak oleh dosa. Dalam lensa pemulihan, manusia ditebus dan dipulihkan oleh Allah.
Satu lensa yang dipakai oleh utopian dan sinis seperti seakan-akan melebur tiga lensa yang Kekristenan miliki dalam melihat realitas ini. Akibatnya, mereka terpaksa harus menghapus kebenaran yang lain. Kelompok utopian menghapus lensa kejatuhan, sehingga menganggap manusia pada dasarnya baik dan yang perlu dilakukan adalah perbaikan sistem. Kelompok sinis menghapus lensa penciptaan, sehingga menilai manusia pada dasarnya busuk dan tidak ada harapan bagi dunia ini.
Dunia yang rusak ini bukan versi asli ketika Tuhan menciptakan-Nya. Dunia yang rusak ini bukan pula dunia yang sudah mencapai kondisi akhir di dalam pemulihan Allah. Itu sebabnya, keadaan hari ini tidak dapat mendefinisikan kita. Manusia diciptakan untuk kehidupan yang baik di dalam penciptaan Allah, dan bahkan jauh lebih baik mencapai kesempurnaan-Nya di dalam pemulihan Allah kelak.
Maka, berbeda dengan orang sinis, orang Kristen dipanggil untuk bekerja dan melayani. Dunia membutuhkan kasih, keadilan, dan kebenaran yang hanya bisa dihadirkan oleh orang Kristen yang sebelumnya telah menerima itu semua dari Kristus. Kita percaya kuasa penebusan Kristus sanggup memulihkan tatanan dunia ciptaan ini, lewat gambar-Nya yang sudah ditebus terlebih dahulu.
Tetapi berbeda dengan utopian, orang Kristen tetap realistis. Kita menyadari bahwa selama dosa masih bercokol di dalam hati manusia, tidak ada peningkatan pendidikan, pelatihan moral dan karakter, reformasi politik, atau perbaikan sistem apa pun yang dapat menyelesaikan permasalahan dunia ini. Itulah mengapa selain bekerja dan melayani di bidang-bidang tertentu, kita juga perlu sekuat tenaga memeras diri untuk membawa manusia mengenal Tuhan. (SS)

