Pada zaman sekarang, perempuan yang hendak melahirkan anak dapat memilih secara caesar (less pain). Tetapi pada zaman dahulu, tidak ada pilihan selain secara normal dengan kesakitan yang cukup besar.
Alkitab sejak awal sudah mengatakan bahwa seorang perempuan akan mengalami kesusahan saat mengandung dan melahirkan anak. Hawa mengatakan bahwa ia melahirkan anak pertamanya dengan pertolongan Tuhan. Untuk mengandung pun bisa menjadi hal yang sulit bagi sebagian perempuan. Rahel menukar Yakub dengan buah dudaim Lea demi mendapatkan anak, tetapi sesungguhnya Tuhanlah yang memberikan keturunan. Ketika Rahel melahirkan anak terakhirnya, persalinannya sangatlah sulit sampai-sampai Rahel menamainya Ben-oni, yang artinya anak kedukaan. Tetapi Yakub segera menggantinya menjadi Benyamin, yang artinya anak kesayangan, karena Yakub sangat menyayangi Rahel alih-alih Lea.
Ada lagi seorang perempuan karena kesakitan melahirkan menamai anaknya Yabes, yang artinya kesakitan. Kali ini tidak ada yang mengubah namanya, tetapi Yabes berseru kepada Allah: ”Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku, dan kiranya tangan-Mu menyertai aku, dan melindungi aku dari malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku!” dan Allah mengabulkan permintaannya.
Kesusahan melahirkan bukan suatu kesalahan sampai seorang bayi diberikan nama yang tidak baik oleh ibunya. Kesusahan seorang ibu tidak berhenti sampai anak itu dilahirkan, tetapi terus berlanjut untuk membesarkan dan memelihara anak itu sampai ia mandiri. Perjalanan mendidik seorang manusia adalah perjalanan yang sangat sulit. Ada istilah yang mengatakan “surga di telapak kaki ibu”. Ada lagu yang mengatakan “di dalam dunia ini hanya mama yang baik”. Tetapi ada juga cerita tentang seorang ibu yang mengutuk anaknya sendiri menjadi batu karena durhaka.
Manusia tidak akan menjadi makin baik, sebaliknya makin mencintai dirinya sendiri, menjadi hamba uang, membual dan menyombongkan diri, memfitnah, berontak kepada orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka berkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menurut hawa nafsu daripada menuruti Allah, secara lahiriah menjalankan ibadah tetapi pada hakikatnya memungkirinya. (2Tim. 3:1-5) Apakah pengharapan kita? Alkitab mencatat daftar keturunan, ada yang disebut sebatas nama, ada yang dengan penjelasan singkat, bahkan ada yang dengan uraian panjang. Alkitab mencatat bahwa Yabes lebih dimuliakan daripada saudara-saudaranya. Sekiranya nama kita dicatat dalam buku Tuhan, apakah penjelasan yang diberikan kepada kita? Kehebatan, dosa, atau hati yang berseru kepada Allah?
Marilah kita menjadi anak yang memberikan penghiburan kepada orang tua kita, menjadi orang yang berseru kepada Tuhan, beriman dan melakukan semua perintah-Nya, terlepas dari nama yang diberikan oleh orang tua kita. Tuhan memberi nama dalam kehidupan kita sebagai makna yang sesungguhnya. Yabes tidak akan sakit selamanya, karena Tuhan memberkati dia. Kita tidak akan disebut sebagai manusia berdosa selama-lamanya, karena ada penebusan dari Kristus. Kristuslah akan menulis ulang kehidupan kita menjadi saksi-Nya. Inilah kemuliaan yang dijanjikan Tuhan bagi kita, anak-anak-Nya. (YV)

