Terpujilah Tuhan, Berbahagialah Manusia

Devotion

Terpujilah Tuhan, Berbahagialah Manusia

11 May 2026

Kita sering diam-diam mengakui bahwa kita akan bahagia jika kita memperoleh semua yang kita inginkan, dan menjadi sedih ketika tidak memperoleh apa yang kita inginkan. Namun,  kehidupan seperti itu adalah kehidupan yang dipengaruhi oleh apa yang dari luar kita daripada oleh kestabilan yang berasal dari dalam hati. Pikiran kita selalu menipu kita dengan, jika ada hal-hal dari luar yang ditambahkan, ditempelkan, diberikan pada hidup kita, kita akan makin lengkap, puas, dan bahagia. Kita makin puas dan bahagia ketika kita mendapatkan HP kedua atau HP yang lebih canggih. Padahal kita sadar, kita tidak membutuhkannya. Tanpa kita sadari, kita telah terus menerus mendidik hati kita untuk berbahagia ketika mendapatkan sesuatu dari dunia ini.

Di dalam Injil Matius, Tuhan Yesus menyampaikan delapan Ucapan Bahagia yang menjadi dasar bagi kita untuk berbahagia, sehingga kebahagiaan kita bukan lagi karena apa yang terjadi di luar diri kita, tetapi dari dalam diri kita. Kita dikatakan berbahagia karena Tuhan memberikan kepada kita: Kerajaan-Nya jika kita menyadari kondisi kita yang melarat secara rohani; penghiburan-Nya jika kita menangisi keberdosaan kita; sorga jika kita merendahkan diri di hadapan-Nya; keadilan-Nya jika kita hidup sesuai dengan kebenaran-Nya; pengampunan-Nya jika kita mengampuni sesama kita; diri-Nya jika kita hidup suci; identitas baru sebagai anak-anak-Nya jika kita menjadi peacemakers (bukan troublemakers) dan menjadi serupa dengan Bapa kita (Raja Damai); penghargaan-Nya jika kita menderita demi nama-Nya. Manusia dikatakan berbahagia dalam konteks relasinya dengan Allah dan kerajaan-Nya. Di dalam Alkitab tercatat beberapa orang yang berbahagia menurut Ucapan Bahagia di Matius 5, seperti Maria, ibu Yesus, disebut Yang Diberkati di antara Semua Perempuan (blessed are you among women); Daniel disebut Orang yang Dikasihi Tuhan (man of high esteem); Abraham adalah Yang Dikasihi-Nya (My friend); dan Daud adalah Orang yang Berkenan di Hati-Ku (a man after My heart). Mereka berbahagia karena Allah mereka dan relasi mereka dengan Allah.
Jadi, sebenarnya apa yang seharusnya membuat kita berbahagia secara Alkitabiah? Mengapa kita tidak melatih hidup kita menuju ke sana? Bukankah Alkitab sudah menyatakannya dengan begitu gamblang? Kiranya Tuhan menolong kita mampu berbahagia dengan benar, bahkan mampu menjadi berkat bagi banyak orang. “Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya; air yang akan Kuberikan kepadanya akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal” (Yoh. 4:14). (YV)