Allah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah Allah yang satu dan sama. Dia tidak pernah berubah. Namun, banyak orang merasa bahwa Allah di dalam Perjanjian Lama tampak lebih tegas, cepat menghukum setiap pelanggaran, sedangkan Allah di dalam Perjanjian Baru terlihat lebih penuh belas kasihan dan pengampunan. Apakah ini berarti Allah berubah atau berbeda?
Jawabannya tentu tidak. Sejak semula, Allah adalah Allah yang sekaligus adil dan penuh kasih. Kedua sifat ini selalu hadir, baik di dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Di Perjanjian Lama, Allah diperkenalkan sebagai Allah yang menghukum dosa dan menegakkan keadilan-Nya (Bil. 16:27–30). Namun, pada saat yang sama, Dia juga menyatakan Diri sebagai Allah yang "penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih setia, dan kesetiaan" (Kel. 34:6). Demikian juga di Perjanjian Baru, Yesus menunjukkan belas kasihan-Nya dengan mengampuni perempuan yang kedapatan berzinah (Yoh. 8:1–11), tetapi Allah juga tetap menghukum dosa, seperti yang terlihat dalam kisah Ananias dan Safira (Kis. 5:1–11). Dengan demikian, Alkitab tidak pernah memperkenalkan dua Allah yang berbeda atau Allah yang berubah, melainkan satu Allah yang memiliki karakter yang tetap.
Lalu mengapa Allah dalam Perjanjian Lama terkesan berbeda dengan Allah dalam Perjanjian Baru?
Perbedaannya bukan terletak pada karakter Allah, melainkan pada penekanan penyataan-Nya di dalam setiap tahap sejarah penebusan. Kita sering terbiasa melihat segala sesuatu secara dikotomis: seolah-olah Allah Perjanjian Lama hanya identik dengan murka, sedangkan Allah Perjanjian Baru hanya identik dengan kasih. Cara berpikir seperti ini membuat kita mudah menyimpulkan bahwa Allah berubah atau bahkan berkontradiksi dengan diri-Nya sendiri. Padahal, Allah yang menyatakan murka-Nya tetap adalah Allah yang mengasihi umat-Nya, dan Allah yang mengampuni dosa tetap adalah Allah yang membenci kejahatan.
Lebih jauh lagi, seharusnya kita melihat bahwa tindakan Allah menghukum umat-Nya juga merupakan bentuk kasih-Nya kepada mereka. Sama seperti seorang ayah yang mengoreksi anaknya agar tidak makin jauh dari jalan yang benar, demikian pula Allah mendisiplin umat-Nya supaya mereka bertobat dan kembali kepada-Nya. Sebaliknya, kasih Allah juga tidak pernah berarti membiarkan manusia terus hidup di dalam dosa. Kasih-Nya selalu bertujuan membawa manusia kepada pertobatan dan kehidupan yang kudus.
Jadi, Allah Perjanjian Lama dan Allah Perjanjian Baru bukanlah dua Allah yang berbeda. Dia adalah Allah yang sama, dengan karakter yang sama, yang menyatakan keadilan dan kasih-Nya secara konsisten sepanjang sejarah penebusan. Perbedaan yang kita lihat bukanlah perubahan pada diri Allah, melainkan perbedaan penekanan sesuai dengan tahap karya keselamatan yang sedang Allah kerjakan. Dari Kejadian hingga Wahyu, kita mengenal Allah yang tetap kudus, tetap adil, tetap penuh kasih, dan tetap setia kepada janji-janji-Nya. (AR)

