Membaca Ulang Keselamatan

Christian Life

Membaca Ulang Keselamatan

22 June 2026

Bagaimana kamu tahu kamu sudah diselamatkan? Pertanyaan ini sering kali ditanyakan atau kita tanyakan kepada diri kita sendiri. Cara kita menjawab pertanyaan ini sangat dipengaruhi oleh cara pandang kita yang dipengaruhi oleh cara berpikir zaman; secara khusus di dalam perkembangan cara pandang dunia Barat. Terdapat dua arus besar dalam cara pandang yang memengaruhi kita hari ini. Pertama, modernisme yang berkembang di dunia Barat sekitar tahun 1890-1940 dan kedua, postmodernisme yang berkembang pada tahun 1950 hingga 1990-an. Tanpa kita sadari, sering kali dua cara pandang ini memengaruhi kita di dalam melihat segala sesuatu, termasuk dalam kita melihat keselamatan.

Cara pandang modern dan postmodern membawa kita kepada dua sisi ekstrem yang reduktif. Cara pandang modern yang menekankan pengetahuan objektif dan rasionalitas membawa kita melihat keselamatan sebagai sebuah rangkaian doktrin keselamatan dan mengabaikan aspek personal atau pengalaman eksistensial yang mengubah hidup. Di sisi lain, sebagai reaksi terhadap modernisme, postmodernisme hadir ke arah sebaliknya. Postmodernisme menolak apa yang ditekankan modernisme dan beralih dengan menekankan pengalaman pribadi yang subjektif dan perasaan. Akibatnya, keselamatan tidak lagi “dimengerti” melainkan “dirasakan”. Itu sebabnya, di dalam zaman postmodern, perjalanan spiritual pribadi menjadi penting yang sering kali mengabaikan basis kebenaran objektifnya. Dengan demikian, di dalam cara pandang ini, keselamatan direduksi menjadi kumpulan doktrin yang “mati” (modern) atau menjadi perjalanan spiritual yang liar (postmodern).

Di tengah dua sisi ini, Herman Ridderbos, seorang ahli biblika dan theolog Reformed dari Belanda memberikan jawaban yang Alkitabiah. Di dalam bukunya yang berjudul “Paulus: Pemikiran Utama Teologinya”, Ridderbos mengajak kita melihat keselamatan bukan dari kacamata zaman yang reduktif, melainkan kembali kepada pengajaran Alkitab yang secara spesifik berdasarkan theologi Paulus yang utuh, yaitu dengan kacamata redemptive-history (sejarah keselamatan) dan eschatological (eskatologis).

Ridderbos melalui kacamata redemptive-history, menegaskan bahwa keselamatan memiliki fondasi objektif yang kuat, yaitu karya Allah di dalam sejarah melalui Kristus yang lahir, hidup, mati, dan bangkit. Selain itu, dengan melihatnya secara eskatologis, keselamatan memiliki sifat already and not yet, di mana transformasi dari keselamatan yang Tuhan berikan itu sudah terjadi, walaupun belum mencapai kesempurnaannya.

Di dalam tulisan-tulisannya, Paulus membawa kita untuk melihat bahwa keselamatan pertama-tama bersifat korporat dan memiliki fondasi yang kokoh melalui peristiwa historis. Paulus berulang kali menyebut keselamatan “di dalam Kristus”, di mana kita mendapat keselamatan melalui persatuan dengan Kristus yang sudah mengerjakan karya keselamatan. Seperti kita berbagian di dalam Adam pertama yang sudah jatuh dalam dosa, dan kita berbagian di dalam dosa, orang percaya mendapatkan keselamatan melalui iman dipersatukan dengan Kristus sebagai Adam kedua.
Karya Kristus yang bersifat objektif dan historis ini yang menjadi dasar bagi iman kita dan memberikan kita status baru, yaitu bahwa kita sudah diselamatkan: dibenarkan, ditebus, dan dipersatukan dengan Kristus. Namun, Paulus tidak berhenti sampai di sana, seperti pemikiran modern yang berhenti kepada pengetahuan objektif. Di dalam tulisan-tulisannya, Paulus tidak pernah berhenti pada kalimat-kalimat indikatif, melainkan ia melanjutkan dengan teriakan imperatif.

Di dalam theologinya Paulus, keselamatan bukan hanya tentang indikatif, melainkan juga sebuah perintah tentang bagaimana kita seharusnya hidup. Contohnya, di dalam surat Roma pasal 1-10, Paulus menuliskan fakta-fakta tentang keberdosaan manusia, keselamatan, dan iman yang bersifat indikatif. Kemudian, di dalam pasal 12 dan seterusnya, tulisan Paulus lebih bersifat imperatif.

Roma 12:1-2
“12:1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. 12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Dengan demikian, fakta bahwa kita sudah diselamatkan dan sudah mati terhadap dosa tidak pernah berhenti sampai di sana, melainkan juga kita melanjutkan dengan mewujudkan status baru yang sudah kita dapatkan sebagai orang yang diselamatkan. Status kita sebagai orang yang sudah diselamatkan tidak pernah berhenti pada proposisi atau pengertian theologis yang mati, tetapi harus diwujudkan dengan tidak membiarkan dosa terus bercokol di dalam diri kita, mematikan perbuatan-perbuatan daging, dan menyatakan perubahan hidup yang nyata. Dengan kata lain, perubahan hidup kita yang subjektif memiliki dasar yang objektif, sehingga keselamatan bukanlah sekadar pengalaman spiritual yang liar, melainkan sebuah transformasi hidup karena apa yang Kristus sudah, sedang, dan akan kerjakan pada umat-Nya.

Sebagai orang Kristen kita perlu berhati-hati dalam bertheologi, karena sering kali cara pandang kita dipengaruhi oleh zaman. Melalui tulisan Ridderbos dalam buku Paulus: Pemikiran Utama Theologinya, memberikan cara pandang yang utuh dalam melihat theologinya Paulus, termasuk mengenai keselamatan. Keselamatan bersifat objektif karena berakar pada karya Kristus dalam sejarah yang bersifat objektif, namun juga bersifat eksistensial dan transformatif dengan mengubahkan hidup kita dalam ketaatan yang makin dalam. Keselamatan seharusnya tidak pernah menjadi hanya sejumlah doktrin atau proposisi-proposisi yang berhenti dalam otak kita, bukan pula hanya kumpulan pengalaman pribadi yang subjektif, melainkan partisipasi aktif kita sebagai orang percaya dalam karya keselamatan Allah yang sudah, sedang, dan akan kerjakan terhadap seluruh ciptaan. (EJ)