Meresponi Tuhan

Devotion

Meresponi Tuhan

6 July 2026

Ketika panggilan Tuhan datang, sering kali kita meragukannya dan bertanya “masak sih Tuhan?” “Apakah ini benar suara Tuhan?” “Haruskan sesusah itu mengikut Tuhan?” “Kayaknya Tuhan lagi becanda deh.”  Kita mengira kita cukup hidup go with the flow dan pada hari terakhir berkata, “äku sudah menyelesaikan pertandingan dan mencapai garis akhir.” Padahal kita tidak tahu apa yang dilombakan? Bertanding melawan siapa? Apa yang perlu dikerjakan? Apakah yang perlu dikerjakan sudah benar dan selesai? Jangan-jangan kita bukan sampai ke garis akhir, tetapi ke garis pembatas jalan. Sering kali respons ini datang karena kita kurang mengerti betapa kerasnya bapa-bapa iman kita mengerjakan panggilan Tuhan. Abraham keluar dari tempat yang paling baik. Tidak ada negara yang lebih subur, lebih nyaman, lebih maju secara teknologi daripada Ur, tempat kelahiran Abraham. Meskipun demikian, Abraham pergi karena ia beriman dan mau taat kepada Allah.

Di dalam bahasa Ibrani ada sebuah istilah yaitu “Emeth”, yang berarti kebenaran, kesetiaan, atau keteguhan. Tuhan itu Emeth. Ia adalah kebenaran, dan juga Ia stabil atau setia. Baik kemarin, hari ini, dan esok, kebenaran itu selalu sama karena Ia adalah Allah yang juga setia. Maka kita bisa bersandar atau mengandalkan Tuhan yang adalah Emeth. Kita bisa yakin dan percaya kepada Dia. Ketika panggilan Tuhan itu datang kepada kita, kita harus menyadari bahwa panggilan ini datang dari Allah yang benar dan setia. Panggilan-Nya bukanlah panggilan yang bisa kita anggap sepi, tetapi ini adalah panggilan dari Sang Kebenaran yang setia selama-lamanya. Di hadapan Allah yang seperti ini, bagaimanakah seharusnya kita berespons?

Abraham tidak bermain-main atau menganggap sepi panggilan Allah, meskipun panggilan ini berarti ia harus meninggalkan segala kenyamanannya dan menghadapi banyak kesulitan hidup. Ia menyadari bahwa panggilan ini datang dari Allah yang adalah Emeth. Maka tidak adalah respons yang lebih tepat selain beriman kepada-Nya dan dengan rela menjalani setiap panggilan. Panggilan siapa yang lebih berarti untuk kita taati selain daripada panggilan Tuhan? Apakah kata hati kita lebih penting daripada panggilan Allah yang adalah Sang Kebenaran tersebut? Sebagai umat yang sudah ditebus oleh-Nya, kita bukan lagi milik diri kita sendiri, segala yang kita miliki semua adalah milik Allah, oleh karena itu sudah sepatutnya hidup kita taat menjalankan kehendak-Nya. (EG)