Finding Yourself is Losing Yourself

Devotion

Finding Yourself is Losing Yourself

3 August 2026

Dunia ini membawa kita hidup makin hari makin individualis atau egois. Berbagai macam pesan yang didengungkan oleh dunia ini mengarahkan kita untuk mencari identitas atau bijaksana di dalam diri kita. Dengarkan suara hatimu! Ikuti arah hatimu! Jadilah dirimu! Suara-suara seperti ini terus diperdengarkan dari segala sisi.
Singkatnya, setiap harinya dunia ini terus berkata, “Just be yourself.” Saat kita bingung di dalam mengambil keputusan penting di dalam hidup kita, dunia ini berkata, “Listen to your heart.” Saat kita mencari ke mana kita harus mengarahkan hidup kita, dunia ini berkata, “Chase your dream! Follow your passion!” Dunia ini mengajarkan bahwa jawaban dari segala kebingungan dan pertanyaan kita berada di dalam diri kita sendiri, dan yang perlu kita lakukan hanyalah mengambil waktu tenang atau mengasingkan diri, dan temukanlah diri kita di dalam pengasingan atau healing kita tersebut.
Sebenarnya pemikiran seperti ini bukan baru muncul di zaman ini, tetapi sudah ada di dalam pemikiran seorang filsuf bernama Jean-Jacques Rousseau. Ia mengatakan, “the savage lives within himself, whereas the citizen, constantly beside himself, knows only how to live in the opinion of others; in so much that it is, if I may say so, merely from their judgment that he derives the consciousness of his own existence.”  Di dalam kalimat ini, Rousseau membedakan antara manusia alami yang kebahagiaan dan kesadaran dirinya berada di dalam dirinya sendiri tanpa peduli perkataan orang sekitar dengan manusia modern yang selalu berada di luar diri dan sangat bergantung pada opini, penilaian, dan validasi dari orang lain. Cara pandang Rousseau ini adalah ciri khas dari cara pandang arus pemikiran romantisisme yang memberikan perhatian besar di dalam aspek perasaan, individualitas, imajinasi, dan pengalaman subjektif. Cara pandang romantisisme ini menjadi pembuka gerbang bagi arus deras pemikiran yang lebih mementingkan keotentikan diri dan menaruh kecurigaan terhadap otoritas eksternal. Maka tidak heran kalau pada zaman ini, kita dikepung oleh cara pandang yang menilai bahwa diri kitalah yang paling otentik menentukan arah hidup. Dunia luar dianggap sebagai distorsi yang mengacaukan arah hidup, bahkan dianggap bersifat menekan kemanusiaan otentik atau opresif karena menekan manusia alami yang seharusnya paling otentik.
Namun, kekristenan memandang fakta ini dengan sangat berbeda. Manusia alami yang dinilai paling otentik oleh romantisisme, adalah manusia alami yang sudah jatuh dalam dosa. Pemikiran Rousseau mengesampingkan fakta dosa yang sudah merusak setiap aspek kehidupan manusia. Alkitab mengatakan manusia berdosa yang sudah rusak total, kecenderungan hatinya adalah berbuat jahat. Maka impian kita, perasaan kita, kata hati kita, semuanya sudah rusak oleh dosa. Makin kita berusaha mencari keotentikan diri di dalam hati kita, makin kita justru kehilangan diri kita yang sejati, karena pada dasarnya kita sudah terhilang di dalam keberdosaan kita. Keinginan kita bukanlah keinginan seorang manusia sejati, perasaan kita tidak lagi memiliki kepekaan terhadap hal-hal yang seharusnya kita peka. Baik keinginan maupun perasaan, keduanya sudah tercemar oleh dosa. Seorang yang sudah terbiasa berbohong tidak lagi merasa susah hati ketika berbohong, bahkan ia makin terbiasa berbohong. Bahkan seorang yang secara berantai membunuh orang, makin tidak ada rasa bersalah ketika ia membunuh, bahkan bisa sampai ia ketagihan untuk membunuh. Inilah fakta dosa yang tidak kita abaikan. Hidup manusia yang independen dari Allah dan makin bergantung terhadap diri akan membawa kita makin kehilangan Allah hingga akhirnya tersesat. Satu-satunya jalan untuk kita kembali menjadi manusia yang sejati, adalah dengan kembali kepada Sang Pencipta, karena Dialah yang mendesain dan juga menetapkan makna dan identitas diri kita sebagai manusia. Karya penebusan yang Allah anugerahkan kepada kita bukan hanya untuk menghapuskan dosa saja, tetapi juga memperbarui hidup ini, sehingga setiap orang yang lahir baru akan memiliki hati yang hidup yang memiliki kepekaan seperti yang Allah inginkan, membenci yang Ia benci dan mencintai yang Ia cintai. Demikianlah kemanusiaan sejati itu seharusnya, karena manusia itu diciptakan sebagai Gambar dan Rupa Allah. Keberadaan kita seharusnya menggambarkan Allah di dunia ini. Kiranya Tuhan menolong kita untuk dengan jelas melihat bahwa satu-satunya jalan untuk seluruh masalah kita adalah dengan kembali kepada Allah. (SL)