Ketika mendengar kata Natal, sebagian besar orang akan mengingat pohon Natal, Santa Klaus, hadiah, dan diskon besar-besaran. Tidak banyak yang akan mengingat mengenai Kristus yang lahir, Allah yang menjadi manusia demi menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka (Mat. 1:21). Mengapa demikian? Tentu ada banyak alasan. Tetapi mungkin salah satunya adalah bahwa tema ini tidak relevan. Natal yang demikian tidak membuat kita memiliki barang yang baru, tidak membuat kita mendapatkan keuntungan yang besar, dan tidak menambah kekayaan materi kita. Apabila kita berpikir seperti ini, kita perlu melihat kembali konteks ketika ayat ini dituliskan.
Matius 1:21 ditujukan kepada pembaca yang adalah orang Yahudi. Injil Matius dimulai dengan pernyataan bahwa Yesus adalah keturunan dari Daud dan Abraham (Mat. 1:1). Bertahun-tahun sebelumnya, Allah telah berkata bahwa melalui keturunan Abraham, seluruh muka bumi akan mendapat berkat (Kej. 22:18). Keturunan di sini adalah tunggal, yang berarti bahwa melalui satu orang dari keturunan Abraham, janji ini akan digenapi. Abraham kemudian memiliki keturunan yang terus bertambah sampai akhirnya keturunannya menjadi sebuah bangsa, yaitu bangsa Israel. Kemudian di dalam sejarah Israel, terdapat seorang raja yang begitu dihormati oleh bangsa Israel yaitu Raja Daud. Allah berjanji kepada Daud bahwa akan ada satu keturunannya, yang akan memiliki kerajaan yang berlangsung selamanya (2Taw. 7). Anak Daud, Salomo, menjadi raja dan membuat Israel menjadi kerajaan yang go international. Kejayaan, kekayaan, dan kebesaran Kerajaan Israel diakui oleh seluruh dunia. Namun, seiring berjalannya waktu, kejayaan Kerajaan Israel terus menurun. Kerajaan Israel dikalahkan oleh kerajaan lain, sebagai akibat dari dosa mereka kepada Tuhan. Israel terus berada di bawah kuasa kerajaan lain, sampai akhirnya kerajaan mereka tidak pernah bangkit lagi seperti dulu. Dan pada waktu Yesus lahir, bangsa Israel sudah tidak lagi memiliki raja dan berbentuk kerajaan, dan mereka justru berada di bawah kuasa Romawi.
Ketika kisah kelahiran Yesus dibuka dengan mengatakan Yesus adalah Anak Daud, Anak Abraham, tentu saja wajar jika kita mengharapkan bahwa Yesus akan membangun kerajaan bagi bangsa Israel seperti janji Allah kepada Daud dan bahwa melalui Yesus, bangsa Israel bukan hanya diberkati, tetapi juga memberkati seluruh bangsa sebagaimana janji Allah kepada Abraham. Wajar saja bangsa Israel berharap Kerajaan Israel akan berdiri kembali secara fisik, dilimpahi kekayaan materi sebagaimana masa-masa lalu, sebagaimana yang kita harap-harapkan ketika Natal, yakni hadiah, uang, diskon–singkatnya: kekayaan materi.
Namun, ternyata kedatangan Yesus tidak sesuai dengan ekspektasi kebanyakan orang Israel. Yesus datang dalam kesederhanaan dan kelemahan, baik pada waktu kelahiran-Nya, hari-hari hidup-Nya (ingat: Yesus bahkan tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Mat. 8:20)), pada saat kematian-Nya (bahkan Yesus tidak memakai sehelai kain pun ketika disalib–ya, dia ditelanjangi!), dan penguburan-Nya. Kedatangan Yesus tidak dihiasi dengan satu kekayaan materi pun–sangat jauh dari pemahaman kita hari ini tentang Natal.
Mengapa demikian? Sebab Yesus datang untuk menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka (Mat. 1:21). Tentu saja Allah tahu bahwa ketika bangsa Israel berada di bawah kekuasaan Romawi, kehidupan bangsa Israel pasti tidak enak; dan bahwa bangsa Israel memerlukan kebutuhan materi dan fisik pada waktu itu. Mungkin, kondisi materi kita hari ini jauh lebih baik daripada kondisi bangsa Israel pada waktu itu. Namun, sebagai Pencipta, Allah tahu apa yang paling dibutuhkan umat-Nya. Seberapa penting pun kebutuhan fisik dan materi bagi kita, dalam pandangan Allah, semua itu tidak sepenting kebutuhan manusia untuk diselamatkan dari dosa. Untuk apa manusia mendapatkan seluruh dunia tetapi manusia kehilangan nyawa-Nya (dalam konteks ini: kehilangan keselamatannya ketika masuk neraka)? Dan untuk menyelamatkan kita dari dosa, Yesus harus hidup miskin, sengsara, dan terhina sampai mati di atas kayu salib (2Kor. 5:21, 8:9).
Maka marilah kita belajar rendah hati untuk tidak lebih pintar dari Tuhan yang mencipta kita. Jika Tuhan mengatakan bahwa jauh lebih penting diselamatkan dari dosa daripada diselamatkan dari kekurangan materi, maka marilah kita berpikir sesuai dengan kehendak Tuhan. Dan dengan itu, marilah kita, pada Natal ini mengharapkan diri kita dan orang lain, bukan untuk mendapatkan materi tetapi keselamatan melalui iman kepada Kristus (Ef. 2:8). Kita dapat melakukannya dengan mengikuti kebaktian Natal, dan mengajak rekan kita dalam kebaktian Natal yang memberitakan makna Natal yang sejati. Kiranya Tuhan menolong kita. Amin. (MR)

