Istirahat

Devotion

Istirahat

16 February 2026

Teknologi saat ini memungkinkan kita bergerak sangat cepat dan melakukan banyak hal juga dengan cepat. Pada saat yang sama, situasi ini juga menuntut kita bergerak dengan cepat. Hal ini mengakibatkan kita mudah jenuh. Kita merasa too much. Terlalu banyak yang hadir dalam hidup kita secara bersamaan, terlalu cepat hal satu dan lainnya silih berganti menghampiri hidup kita, dan terlalu banyak hal yang harus diselesaikan dalam waktu yang singkat. Terlalu banyak yang bisa kita cerna dalam waktu sesingkat itu, kita tidak bisa lagi bisa menikmatinya dan akhirnya kita merasa sangat membutuhkan “healing.” Tidak terkecuali di dalam kehidupan bergereja, kita juga sering sampai merasa jenuh. Banyaknya pelayanan yang harus dikerjakan, pelayanan yang membutuhkan persiapan ekstra, pelayanan yang bertumpuk, sehingga kita pun merasa perlu untuk beristirahat. Namun istirahat seperti apa yang dapat memuaskan kejenuhan hidup? Ketika kita tidak mengerti bagaimana beristirahat, kita mungkin justru menambah kejenuhan kita dalam istirahatnya kita atau justru merasa bersalah ketika melakukannya.

Dalam Alkitab, ‘Shabbat’ artinya cessation atau proses menyelesaikan, atau membuat sesuatu sampai kepada penyelesaiannya. Kalau ini adalah sebuah proses, berarti ada hal yang perlu kita kerjakan dan lalui agar proses ini bisa berkesinambungan dengan baik. Maka apa yang perlu kita kerjakan dalam istirahat kita?

Kita perlu menyadari bahwa istirahat yang sejati datangnya dari Tuhan, bukan dari diri kita. Ketika kita melihat dan mencari kelepasan dari dalam diri kita, kita hanya akan melihat kebodohan kita, ketidakmampuan kita, dan kegagalan kita. Dalam pelayanan, bukan berarti kita tidak boleh mengevaluasi kesalahan apa yang kita lakukan, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kita berespons ketika melihat kegagalan diri kita. Solusi dari kebodohan kita hanyalah anugerah penebusan dan transformasi yang dari Tuhan. Ketika kita sudah mengetahui kesalahan dan kebodohan kita, maka berikutnya, di dalam istirahat kita, kita perlu untuk datang kepada Tuhan, memohon akan anugerah Tuhan, supaya kita bisa menjadi lebih pintar dan dimampukan untuk mengerjakan pekerjaan Tuhan.

Setelah kita datang kepada Tuhan, apakah lalu kita tiba-tiba berubah menjadi lebih pintar? Dalam hidup, ada proses belajar, ada proses melatih apa yang dipelajari. Belajar hanya sekadar memasukkan suatu informasi ke dalam otak kita. Sedangkan berlatih berarti membuat apa yang kita ketahui itu, menjadi bagian dari diri kita, yang kita bisa dengan natural melakukannya. Misalnya ketika kita belajar berjalan. Pertama-tama kita belajar bahwa berjalan berarti melangkahkan kaki dan menjaga keseimbangan, setelah itu kita akan terus berlatih sehingga berjalan menjadi bagian dari diri kita, dan kita bisa melakukannya secara natural. Proses latihan inilah yang perlu untuk kita kerjakan, suatu proses mempersiapkan diri agar ketika Tuhan panggil, kita siap melakukannya.

Dalam kehidupan pelayanan kita, ada hal yang perlu kita latih agar ketika kesempatan pelayanan itu datang, kita bisa melakukannya dengan tanggap dan tepat. Latihan inilah yang perlu kita lakukan dalam istirahat kita, bagaimana kita mencari cara terbaik dan tercepat untuk mengerjakan hal pelayanan kita, serta melatih hati kita untuk taat dan rela. Kita tidak akan tahu kapan Tuhan akan menyuruh kita melakukan apa. Tetapi selama Tuhan belum menyuruh kita pergi, kita perlu mempersiapkan hati, fisik, serta segala peralatan perang kita dengan sebaik mungkin. Jangan sampai pada saatnya Tuhan suruh kita maju berperang, kita masih sedang bergumul, atau sibuk belajar jalan, atau sibuk melap baju zirah kita yang berdebu, atau mengasah pedang kita yang tumpul.

Maka, marilah kita terus berproses dengan benar di dalam istirahat kita, sehingga kita bisa terus bersemangat dan dipertumbuhkan dalam melayani Tuhan. Karena kita tidak akan pernah tahu kapan kesempatan pelayanan dari Tuhan itu akan diberikan, maupun dicabut. (EG)