Hidup dan Perkataan yang Penuh Kuasa

Devotion

Hidup dan Perkataan yang Penuh Kuasa

9 February 2026

Sebagai orang Kristen kita tentunya tidak asing dengan frasa “Puji Tuhan” atau “Tuhan memberkati”. Saking seringnya frasa-frasa tersebut dipakai, mereka seperti menjadi sebuah trademark agama Kristen. Kita pun pasti sering menggunakan frasa atau jargon Kristen dalam kehidupan sehari-hari, bukan? Namun, apakah kita benar-benar mengamini apa yang kita ucapkan? Jangan-jangan, saking sering dan otomatisnya kita menggunakan frasa-frasa tersebut, perkataan tersebut menjadi kehilangan makna dan kuasa.

Setiap perkataan yang kita ucapkan seharusnya adalah perkataan yang membangun dan yang dapat membuat orang lain melihat Tuhan dan kebaikan-Nya. Ini bukan semata-mata menghindari kata-kata yang vulgar, tetapi kita juga membicarakan hal-hal yang positif. Dan membicarakan yang positif juga bukan sekadar mengeluarkan istilah-istilah Kristen, tetapi mengucapkannya dengan penuh kesadaran dan kesungguhan hati. Orang lain sungguh-sungguh bisa merasakan jika kata-kata yang kita keluarkan bersifat formalitas belaka, basa-basi, atau memang benar-benar mengandung kuasa yang berdampak pada mereka.
Kuasa ini bukan berasal dari diri sendiri, melainkan dari Allah. Dan orang Kristen yang hidup dan perkataannya mengandung kuasa bukanlah orang Kristen yang pengetahuan di kepalanya penuh. Mereka juga bukan orang-orang Kristen yang semata-mata rajin membaca Alkitab dan buku theologi saja (meskipun membaca Alkitab itu harus dan mempelajari theologi itu sangatlah dibutuhkan). Yang membawa kuasa Allah adalah mereka yang menjalankan dan menghidupi setiap kebenaran yang sudah mereka terima. Seberapa jauh dan taat hidup kita dalam benar-benar menjalankan–bukan hanya mendengarkan saja–firman Tuhan, sejauh itu pula kuasa Tuhan menyertai hidup dan setiap perkataan kita.
Mari kita jangan menjadi sama seperti orang Farisi dan ahli Taurat yang bisa dengan pandai dan akurat mengutip, dan bahkan mengajarkan firman Tuhan, tetapi tidak dengan kuasa. Jangan sampai kita pun mengeluarkan istilah-istilah theologis dan jargon Kristen dengan fasih, tetapi itu semua tidak ada kuasa yang dapat memberkati orang lain. Mari kita belajar dari Yesus, yang hidup sepenuhnya taat kepada Bapa dan mengajar dengan kuasa. Kiranya hidup dan perkataan kita pun juga mampu memancarkan kuasa surgawi, sehingga orang lain yang melihat hidup dan mendengar kita boleh melihat Tuhan yang sejati.(SI)