Alkitab banyak mengajarkan tentang hikmat dan kebijaksanaan hidup. Manusia membutuhkannya, sebab banyak kesulitan hidup muncul justru karena kita kurang berhikmat. Amsal 6:6 mengatakan, “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikan lakunya dan jadilah bijak.”
Kita tahu bahwa semut itu hewan kecil, namun memiliki daya tahan luar biasa. Mereka mampu bertahan dalam berbagai musim. Bukan hanya bertahan, tetapi juga berbijaksana dalam mempersiapkan diri. Semut tahu bahwa di musim dingin mereka tidak bisa mencari makanan dengan leluasa, maka mereka mengumpulkan makanannya di musim sebelumnya. Dalam menghadapi tantangan predator, kerasnya musim, atau kesulitan dalam mengumpulkan makanan, semut tetap rajin dan gigih bekerja dan berjuang. Setiap semut seakan sangat sadar akan tanggung jawabnya. Mereka bekerja bukan saja untuk dirinya sendiri, mereka bekerja untuk dan sebagai satu koloni. Itulah sebabnya Amsal menasihati pembacanya untuk belajar dari semut dan menjadi bijaksana.
Semut berbijaksana dan tidak egois. Semut sadar ada waktu tertentu di mana mereka tidak bisa bekerja lagi. Semut juga tahu dirinya kecil dan sangat terbatas. Namun, dengan mengabaikan semuanya itu, semut tetap rajin dan tekun di dalam mengerjakan bagiannya bagi kesejahteraan keseluruhan koloni.
Lalu bagaimana dengan kita sebagai orang percaya? Apakah kita sadar bahwa ada pekerjaan besar dari Allah yang dipercayakan kepada kita? Apakah kita ingat bahwa ada waktu di mana kita tidak lagi dapat melakukannya? Apakah kita mengakui bahwa kita hanya manusia kecil yang terbatas? Jika kita menyadarinya, bagaimana kita akan mengatur hidup kita? Bagaimana kita akan menjalani setiap hari dengan tanggung jawab di hadapan Allah demi kebesaran Kerajaan Allah?
Kiranya Tuhan memberi kita hikmat dan kebijaksanaan untuk menyadari keterbatasan waktu dan kemampuan kita, serta menolong kita agar setia menjalankan tanggung jawab yang Allah percayakan dalam karya-Nya yang besar. (DB)

