Unloved (by man) Yet Loved (by God)

Christian Life

Unloved (by man) Yet Loved (by God)

7 September 2020

Ada seorang tokoh di dalam Alkitab yang mungkin akan membuat kita iba ketika membaca tentang dirinya. Alkitab mencatat bahwa dia tidak menarik, dia dimanfaatkan oleh ayahnya, dan dia pun tidak akur dengan adik kandungnya sendiri. Bisakah kita tebak kira-kira siapa dia? Dia adalah Lea.

Lea adalah anak pertama Laban, pamannya Yakub. Alkitab mencatat bahwa mata Lea tidak berseri (Kej. 29: 17, terjemahan LAI). Pada zaman itu, istilah ini merupakan cara halus untuk mengatakan bahwa orang itu tidak menarik atau jelek. Kita juga tahu bahwa Lea tidak diinginkan oleh Yakub, karena Yakub mencintai Rahel. Laban pun sebenarnya sangat jelas mengerti tentang hal ini, dan kondisi ini malah dimanfaatkan oleh Laban untuk menipu bukan saja Yakub, tetapi Lea juga. Ada tafsiran yang mengatakan bahwa mungkin Lea pun tidak tahu-menahu bahwa Yakub sebenarnya menginginkan Rahel dan bahwa dia sudah ditipu saat ayahnya memberikan tangannya kepada Yakub. Kita bisa melihat bahwa Lea terus-menerus bersaing dengan adiknya sendiri dan mereka berlomba-lomba untuk memberikan keturunan kepada Yakub guna memenangkan cinta Yakub.

Awalnya kita bisa melihat bahwa Lea unggul di dalam lomba ini. Dia melahirkan tiga anak laki-laki bagi Yakub: Ruben, Simeon, Lewi, sementara adiknya, Rahel, mandul. Lea sangat berharap bahwa Yakub akan sepenuhnya jatuh ke dalam pelukannya. Namun, tetap saja Yakub lebih memilih Rahel daripada Lea. Hal ini pasti membuat Lea terpuruk, tetapi justru hal ini membuat Lea menggeser fokusnya dari Yakub kepada Allah. Setelah melahirkan anak yang keempat, yaitu Yehuda, Lea sadar bahwa sudah seharusnya ia menaikkan syukur kepada Allah (Kej. 29: 35) karena Allah sudah mencintainya dengan memberikan kepadanya empat anak laki-laki.

Mungkin kita sama seperti Lea, terus berjuang untuk memenangkan cinta dari manusia lainnya. Padahal ini hanya akan berujung pada kekecewaan. Hati manusia tidak mungkin bisa dipuaskan oleh cinta dari manusia berdosa lainnya. Saat kita benar-benar sudah putus asa, sering kali Tuhan seperti sengaja membiarkan kita terpuruk di dalam kekecewaan, supaya kita tidak bisa melihat dan berharap ke mana-mana lagi kecuali ke atas–kepada Allah. Saat kita mendongak ke atas, kita akan melihat ada Allah yang mencintai kita, sampai Ia rela menyerahkan Anak-Nya yang tunggal untuk mati di atas kayu salib menjadi penebusan bagi manusia berdosa.

Jika kita sudah bertemu dengan cinta yang sejati ini, satu-satunya respons yang tepat adalah mencintai-Nya kembali. Cinta yang utuh, yang tidak terbagi, yang sepenuhnya dan total diberikan kepada Allah, karena memang hanya Allah yang layak menerima seluruh cinta kita.

Saat kita begitu mencintai sesuatu, adalah lumrah untuk ingin membagikannya kepada orang-orang lain. Seperti seorang penyanyi ketika mencintai seorang wanita, ia mengajak orang lain untuk menyetujuinya: Isn’t she lovely? Isn’t she wonderful?

Mari kita yang mencintai Allah, membagikan cinta itu kepada orang lain di sekitar kita, mengajak orang lain untuk bertemu dan menikmati cinta Allah. Mereka sedang menanti-nanti cinta yang dapat memuaskan hati mereka, mari kita menuntun mereka kepada Allah, satu-satunya yang bisa memuaskan hati manusia dan yang sungguh-sungguh mencintai manusia. (WS)