Mutlak dan Relatif

Devotion

Mutlak dan Relatif

30 March 2026

Ketika Daud dinobatkan menjadi raja atas seluruh Israel, ia berkeinginan untuk memindahkan tabut Allah kembali ke Yerusalem. Tabut Allah kemudian dibawanya dari Kiryat-Yearim dengan cara menaikkannya ke dalam kereta lembu. Ketika sampai di tempat pengirikan Kidon, lembu-lembu yang membawa kereta itu tergelincir, dan Uza mengulurkan tangannya memegang tabut itu. Seketika itu juga Tuhan murka terhadap Uza dan membunuhnya. Betapa mengerikannya kejadian itu, sampai-sampai Daud tidak berani melanjutkan niatnya. Ia kemudian menyimpang dan membawa tabut itu ke rumah Obed-Edom dan Tuhan memberkati keluarga Obed-Edom. Dari satu kisah yang sama: yang satu dihukum, yang lain diberkati.

Kenapa Allah murka kepada Uza? Karena sejak zaman Musa, Tuhan sudah menetapkan bahwa hanya orang Lewi yang boleh membawa tabut Allah dan dengan cara memegang kayu pengusung yang berada di dalam gelang yang melekat pada tabut. Daud tidak melakukannya seperti yang diperintahkan Tuhan Allah kepada bangsa Israel. Daud melakukannya persis seperti bangsa Filistin memperlakukan tabut Allah itu ketika mereka mengembalikan tabut itu, yakni dengan menaikkannya ke atas kereta lembu.
Setelah diam di rumah Obed-Edom (note: orang Lewi) selama tiga bulan, kembali Daud merindukan tabut Allah. Kali ini Daud berhati-hati untuk melakukannya dengan cara yang benar. Daud mengatakan tidak ada seorang pun yang boleh membawa tabut Allah selain orang Lewi, karena Tuhan telah memilihnya, itu adalah perintah-Nya. Dari kisah ini kita melihat bahwa perintah Allah yang mutlak tidak boleh direlatifkan manusia. Allah tidak meminta pendapat manusia untuk memikirkan cara lebih baik atau lebih masuk akal. Allah memberikan perintah, manusia wajib melakukannya seperti yang diperintahkan. Bayangkan saja bagaimana kita harus membawa kembali tabut Allah jika tabut Allah ada di Indonesia? Apakah kita akan membawanya persis seperti yang diperintahkan Allah atau kita akan merasa cara modern paling cocok untuk itu? Akankah kita merasa perintah Tuhan itu seharusnya ada sisi relatifnya? Kembalikan tabut Allah ke Yerusalem, ini perintah absolut, tetapi cara kembalikannya, bukankah ini relatif adanya?
Kalau kita lompat sedikit ke kisah penebusan Kristus, bagaimana kita memandang jalan salib itu? Apakah itu merupakan hal mutlak bagi Tuhan Yesus untuk menyelesaikannya? Percayakah kita bahwa tubuh Kristus yang dikoyak dan darah yang dicucurkan adalah satu-satunya jalan keselamatan untuk menebus manusia berdosa? Tentang hal ini, Matius 16 mencatat bagaimana respons Petrus dengan menegur Tuhan Yesus dan Tuhan Yesus menjawab, ”Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Namun, ketika orang-orang Samaria tidak mau menerima kedatangan Tuhan Yesus, maka Yakobus dan Yohanes marah tetapi Yesus menegur mereka dan pergi ke desa lain. Dari dua contoh ini kita melihat bagaimana Tuhan Yesus bersikap: penerimaan manusia adalah hal yang relatif bagi Tuhan Yesus, tetapi kehendak Bapa di surga adalah absolut.
Jadi, apakah yang mutlak absolut dan apakah yang relatif dalam kehidupan kita? Umumnya kita memutlakkan keinginan kita dan merelatifkan perintah Tuhan; mementingkan penerimaan orang lain daripada menyenangkan Tuhan; menginjak yang lemah dan takut kepada yang kuat daripada membela yang lemah; taat ketika ada yang mengawasi dan berbuat sesuka hati ketika sendirian, dan sebagainya. Marilah kita belajar menempatkan segala sesuatu pada tempatnya sesuai Alkitab; yang mutlak harus dimutlakkan dan yang relatif harus direlatifkan. (YV)