Kerusakan Total & Kebaikan (2)

Devotion

Kerusakan Total & Kebaikan (2)

2 February 2026

Kita telah mengerti sebelumnya bahwa kerusakan total mengartikan bahwa seseorang telah rusak dalam semua cakupan dan aspek kehidupannya. Orang tersebut memang tidak melakukan kejahatan secara maksimal. Tetapi sekali lagi, kerusakan total berbicara mengenai cakupan kerusakan di seluruh aspek hidupnya, sehingga tidak ada satu pun perbuatan manusia berdosa yang baik. Kita mungkin bertanya, “Masa iya sih. Tidak ada hal yang baik? Kalau begitu apa itu perbuatan baik?”
Katekismus Heidelberg dalam pertanyaan ke-91 menjelaskan bahwa perbuatan baik harus memiliki tiga syarat, yaitu (1) sesuai dengan hukum Tuhan, (2) berasal dari iman yang sejati, dan (3) ditujukan bagi kemuliaan Allah. Inilah menjadi standar perbuatan baik yang sempurna, lengkap, dan utuh sepenuhnya. Pengurangan sedikit saja dari standar ketiga syarat di atas membuat perbuatan baik kita menjadi cacat. Maka perbuatan yang terlihat baik dari luar, belum tentu perbuatan yang sesungguhnya baik menurut standar di atas. Perbuatan yang terlihat baik di luar tetapi lahir dari motivasi yang salah adalah perbuatan yang jahat di mata Allah. Bahkan perbuatan yang baik dan lahir dari hati yang memang menginginkan kebaikan, tetapi dilakukan tidak berdasarkan iman yang benar kepada Allah sejati tetap adalah perbuatan yang jahat karena tanpa iman yang sejati, tidak ada perbuatan baik yang bisa diterima oleh Allah. Tanpa iman sejati tidak mungkin manusia bisa mempersembahkan sesuatu apa pun kepada Allah sejati, Sumber dan Tujuan dari segala sesuatu. Kecacatan dalam perbuatan baik ini menjadi bukti nyata kerusakan manusia berdosa. Setiap hal yang manusia berdosa lakukan adalah perbuatan-perbuatan yang memiliki campuran keberdosaan di dalamnya dan merupakan hal yang menjijikkan. Hal demikian tidak mungkin bisa diterima oleh Allah. Oleh karena itu kebaikan tidak bisa berhenti di dalam hal-hal yang dunia ini nilai baik. Perbuatan amal, menolong sesama, dan hal-hal yang selama ini kita anggap baik, adalah kebaikan yang bersifat relatif, kebaikan yang dinilai baik di dalam aspek-aspek tertentu saja. Namun, kebaikan yang sejati adalah kebaikan yang harus memenuhi standar sempurna yang ditetapkan oleh Allah, Sang Pencipta.
Jika demikian, bagaimanakah kita mampu berbuat baik? Satu-satunya kebaikan yang bisa diterima oleh Allah adalah kebaikan yang dilakukan di dalam Kristus. Artinya perbuatan yang dilakukan di dalam iman kepada Kristus. Melalui iman kepada Kristus, kita dipersatukan dengan Kristus, sehingga segala kelemahan kita, keberdosaan kita, ketidaksempurnaan serta kecacatan perbuatan kita, disempurnakan di dalam Kristus. Perbuatan baik demikianlah yang akan diterima oleh Allah Bapa di Surga, karena perbuatan di dalam Kristus sempurna adanya. Hal ini berarti, tanpa kita menerima dan beriman kepada Kristus yang adalah satu-satunya Juru Selamat, tidak mungkin kita dapat berbuat baik. Karena Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan yang mendamaikan kita dengan Allah. Iman yang sejati kepada Kristus akan menuntun hidup kita untuk dibarui dan secara progresif dibentuk untuk memiliki kehidupan yang menyatakan kebaikan sejati sesuai dengan standar Allah. Bukan saja dibarui, namun juga disempurnakan. Kiranya Tuhan menolong kita semua bisa mengenal dan percaya kepada Yesus Kristus dengan benar! (DB)