Kebenaran yang Melekat

Devotion

Kebenaran yang Melekat

26 January 2026

Sebagai seorang Kristen, kita sering diingatkan akan anugerah Tuhan yang tiada habis-habisnya, khususnya kita disadarkan akan anugerah Tuhan di mana kita diberikan kesempatan bersinggungan dengan kebenaran. Dengan demikian, kita dimampukan mengenal kebenaran, khususnya berkaitan dengan firman Allah. Kita bersinggungan dengannya melalui ibadah hari Minggu, pembacaan renungan harian yang kita lakukan setiap hari, buku rohani yang kita baca, ataupun melalui saudara seiman yang Allah tempatkan di sekitar kita. Tetapi semua kebenaran yang kita terima sering kali hanya menjadi kumpulan informasi yang memenuhi otak kita. Sehingga tidak heran jika kita sering melupakannya karena kebenaran-kebenaran itu tidak benar-benar melekat di hidup kita. Kita bisa mengetahui banyak tentang Allah, tetapi hidup kita jauh dari Allah.

Kita bisa mengetahui banyak hal mengenai doktrin-doktrin kekristenan, tetapi hidup kita berbeda dengan itu semua. Hal ini bisa kita lihat dengan jelas ketika kita sedang menghadapi kesulitan hidup. Pada saat itulah iman kita akan diuji, apakah benar kita sungguh percaya pada kebenaran yang selama ini kita ketahui atau hanya sekadar mengetahuinya. Kesulitan akan mendesak kita, bahkan menghimpit hidup kita. Kesulitan akan menarik seluruh perhatian kita padanya dan membuat kita melupakan kebenaran Allah yang selama ini kita pelajari. Kita akan lupa bahwa ada Allah yang terus memelihara kita ketika kita sedang mengalami kesulitan dalam ekonomi. Kita akan lupa bahwa ada Allah yang mengasihi kita ketika kita sedang mengalami patah hati. Kita akan lupa bahwa ada Allah yang Maha Mengetahui ketika kita dinilai salah oleh orang lain. Semua kesulitan itu akan membuat kita putus asa dan melupakan Tuhan. Itu merupakan bukti bahwa kita tidak sungguh-sungguh beriman kepada Allah. Karena itu, pembelajaran akan firman Tuhan bukanlah pembelajaran kognitif belaka, melainkan pembelajaran hidup.

Dengan demikian, kebenaran secara progresif akan mendarah daging dalam hidup kita. Kebenaran akhirnya menjadi pegangan hidup yang terus menuntun kita. Ketika kebenaran sudah melekat, kesulitan dalam bentuk apa pun tidak akan membuat kita melupakan kebenaran tersebut. Kesulitan tidak akan merebut sukacita kita karena pernyataan akan kasih setia Allah makin kita lihat. Kesulitan akhirnya dipakai Tuhan untuk mempertajam pengertian kita akan kebenaran. Kesulitan akan menghasilkan pertumbuhan, bukan pembunuhan akan iman kita. Kiranya Tuhan menolong kita untuk terus makin melekat dengan kebenaran-Nya. (RP)