Hormatilah Ayah dan Ibumu

Christian Life

Hormatilah Ayah dan Ibumu

24 August 2020

Edukasi yang kita jumpai sekarang sering tereduksi menjadi hanya sekadar transfer ilmu. Di satu sisi, mungkin ada guru yang mengajar sebatas pelajarannya itu sendiri tanpa makna yang dalam dari hidupnya, tetapi di sisi lain, banyak murid tidak lagi menghormati atau bahkan mendengarkan gurunya. Kita kira kita sudah cukup tahu dan cukup pintar. Kita anggap sumber ilmu bukan hanya ada pada guru atau institusi karena ilmu terserak di mana-mana. Kita bisa dengan gampangnya belajar dari internet, youtube, atau bahkan dari buku yang sekarang pdf-nya juga sudah banyak. Lalu ketika orang tua kita memberi kita nasihat, kita katakan kita sudah tahu. Sama halnya dengan pengkhotbah dari atas mimbar pada hari Minggu. Ketika hamba Tuhan berkhotbah tentang tema atau doktrin yang sudah pernah kita dengar, kita pikir, “Halah, itu lagi, itu lagi, saya sudah tahu.” Ketika kita rasa kita sudah tahu banyak hal dan cukup bijaksana, justru itulah sebenarnya titik di mana kita jatuh lebih bodoh dari orang yang paling bodoh. Amsal 26:12 mengatakan, “Jika engkau melihat orang yang menganggap dirinya bijak, harapan bagi orang bebal lebih banyak dari pada bagi orang itu.” Dalam konteks ini, orang bebal itu bukan hanya orang yang keras kepala, tetapi orang yang bahkan menentang untuk berelasi dengan Tuhan (Ams. 1:7). Tetapi Alkitab mengatakan orang yang sudah anggap diri bijak lebih tidak berpengharapan daripada orang bebal. Dalam bahasa Inggrisnya (ESV), orang ini dikatakan sebagai “A man who is wise in his own eyes.” Kita dapat melihat di Alkitab beberapa frasa ini terulang, seperti ketika di ayat terakhir Kitab Hakim-Hakim di mana dikatakan “Everyone did what was right in his own eyes.” Hal ini dikatakan di dalam konteks yang sangat mengerikan.

Pada masa hakim-hakim Israel tambah hari tambah menjadi jahat. Mereka makin menjauh dari Tuhan sampai suatu saat, ada seorang Lewi yang sedang bermalam di kota Gibea (di daerah Benyamin) bersama dengan gundiknya. Tiba-tiba rumah tersebut dikepung oleh orang-orang kota Gibea. Gundik orang Lewi itu lalu diperkosa mereka dari malam sampai fajar. Menjelang pagi, barulah gundik itu kembali kepada orang Lewi itu, tetapi dia jatuh rebah di depan pintu rumah dan mati. Ketika orang Lewi itu menemukan gundiknya mati, dia memotong mayat gundiknya menjadi dua belas dan mengirimnya ke seluruh daerah orang Israel. Ketika orang Israel mendapatkannya, mereka memutuskan untuk perang melawan saudaranya sendiri; suku Benyamin. Setelah perang, suku Benyamin tinggal 600 orang dan membutuhkan perempuan untuk dijadikannya istri. Namun orang Israel telah bersumpah kepada Tuhan untuk tidak memberikan anak perempuan mereka kepada suku Benyamin. Maka apa yang dilakukan orang Israel lebih kejam lagi, yaitu mengambil perawan-perawan dari Yabesh-Gilead untuk diberikan kepada sisa suku Benyamin. Laki-laki dan perempuan yang bukan perawan dari Yabesh-Gilead dibunuhnyalah semua. Ketika perawan dari Yabesh-Gilead tidak cukup jumlahnya, mereka merampas anak perempuan dari Silo untuk dijadikan istri mereka. Setelah semua hal ini terjadi, kitab Hakim-Hakim ditutup dengan perkataan itu “Everyone did what was right in his own eyes.” Tentu kita pikir kita tidak seperti mereka, kita tidak memperkosa orang atau membunuh, tetapi Alkitab berkata, orang yang sudah merasa diri bijaksana tidak lebih berpengharapan daripada orang bebal.

Sering kali kita pikir kita sudah cukup tahu tentang Tuhan, karena dari kecil sudah Kristen, Reformed lagi, maka kita mulai menutup telinga kita terhadap pengajaran firman Tuhan, karena toh ya kan sudah tahu. Hal ini nampak dengan sedikitnya orang yang rela ikut dalam Pendalaman Alkitab, Persekutuan Doa, retret, maupun seminar-seminar yang diadakan. Tentu bukan berarti mereka yang ikut jauh lebih baik, sama sekali tidak! Mereka yang ikut pun dapat melakukannya hanya di dalam kerutinan. Tetapi Alkitab telah menjelaskan betapa bahayanya orang yang bertingkah laku sesuai dengan apa yang dia anggap benar, dan bukan kebenaran sejati yaitu firman Tuhan. Sebaliknya, kebenaran firman Tuhan telah Tuhan titipkan kepada mereka yang mendidik kita, yaitu orang tua, guru, dan orang-orang yang mendahului kita di dalam hidup. Tentu mereka sendiri bukan menjadi standar kebenaran itu sendiri, karena standar kebenaran hanyalah firman Tuhan. Namun ketika Tuhan katakan, “Hormatilah ayah dan ibumu”, itu tidak terlepas dari tunduk di dalam kerendahan hati untuk menerima kebenaran yang telah digumulkan di dalam kehidupan para guru, pengkhotbah, dan orang tua kita. Terlebih dari itu, kebenaran itu juga tidak dapat dilepaskan dari suatu kehidupan kerohanian yang takut akan Tuhan. Amsal 1:7 mengatakan, “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan.” Dalam mengerti kebenaran Tuhan, orang-orang yang telah mendahului kita telah jauh lebih lama mempertahankan suatu kehidupan yang suci dan cinta kepada Tuhan. Kebenaran tidak hanya diberikan secara kognitif saja, tetapi juga di dalam bagaimana kita dapat melatih diri kita untuk tunduk di hadapan Tuhan dan hidup cinta Tuhan. Alkitab telah menjelaskan bagaimana kejinya tindakan orang-orang yang tidak takut akan Tuhan dan merasa diri benar. Mari kita sekali lagi membuka telinga kita terhadap nasihat dan pengajaran yang benar. Mari kita sadar diri kita yang masih sangat bodoh dan mulai belajar rendah hati di hadapan Tuhan agar Tuhan, di dalam belas kasihan-Nya, memberikan kebenaran-Nya di dalam hidup kita. (HES)