Impian untuk memiliki kehidupan yang makin hari makin mudah, tidak banyak masalah, dan tanpa beban adalah utopia dari orang-orang saat ini. Banyak anak muda yang menginginkan kehidupan yang mudah dan menyenangkan, mengejar apa yang menjadi kata hatinya. Namun pada kenyataannya, kehidupan hampir tidak mungkin menjadi lebih mudah. Kesulitan, masalah, kesengsaraan akan selalu kita jumpai di sepanjang hidup kita. Mulai dari kondisi global yang makin kompleks dan berat di berbagai aspek, hingga tuntutan hidup yang juga makin menekan, membuat banyak orang hidup di dalam tekanan baik secara sosial, kesehatan, ekonomi, dan berbagai aspek kehidupan lainnya. Di tengah kondisi seperti ini, apakah yang dapat kita lakukan? Apakah sebagai orang Kristen kita harus hadir untuk memberikan bantuan baik materi maupun moral saja? Atau justru ada hal lain yang lebih krusial atau esensial yang harus kita kerjakan?
Jikalau kita merenungkan kisah Natal, kita perlu kembali bertanya apa itu Natal? Misi utama apa yang Kristus kerjakan hingga Ia merendahkan diri-Nya sedemikian rupa, berinkarnasi menjadi seorang hamba? Apakah Kristus datang untuk mengubah batu menjadi emas sehingga membereskan masalah ekonomi saat itu? Apakah Kristus datang untuk menyembuhkan seorang orang yang sakit sehingga mereka menjadi sehat semua? Atau Kristus datang untuk mendamaikan berbagai pertikaian yang ada di dalam dunia ini?
Alkitab mencatatkan Kristus pernah memberi makan lebih dari 5.000 orang. Ia juga pernah menyembuhkan orang sakit, bahkan membangkitkan orang mati. Ia juga pernah mendamaikan pertikaian yang terjadi saat itu. Namun semua itu dilakukan bukan serta merta untuk aksi sosial, semua itu Ia kerjakan untuk menyatakan siapa diri-Nya. Kristus memberi makan, tetapi untuk menunjukkan bahwa Ia adalah Roti Hidup yang dapat mengeyangkan jiwa manusia. Ia menyembuhkan yang sakit, bahkan membangkitkan yang mati, untuk menunjukkan bahwa Ia adalah jalan, kebenaran, dan hidup. Ia mendamaikan pertikaian untuk menyatakan bahwa Ia adalah sang Gembala yang baik. Ia hadir bukan sebagai sosok aktivis sosial atau filantropis, tetapi Ia hadir untuk menjadi harapan yang sejati bagi umat manusia, harapan yang membawa manusia berdosa kembali kepada Allah dan hidup berdamai dengan-Nya. (SL)

